Selasa, 16 November 2010

Abu Merapi: Kerugian Penerbangan dan Citra Satelit

Ketika gunung Eyjafjallajoekull di Islandia meletus pada April-Mei 2010 lalu, penerbangan komersial di Eropa lumpuh total. Kerugian finansial yang sangat besar harus ditanggung oleh perusahaan-perusahaan penerbangan. Situasi yang sama juga dialami dunia penerbangan Indonesia setelah gunung Merapi meletus.

Penerbangan dari dan ke Yogyakarta adalah salah satu rute yang laris. Namun abu vulkanik Merapi yang memaksa bandara Adisucipto di Yogyakarta ditutup menyebabkan bisnis penerbangan kehilangan pendapatan Rp 5 miliar per hari dari rute tersebut. Kerugian diperkirakan semakin membengkak karena jalur penerbangan pesawat harus diubah lebih ke utara, melewati lintasan di atas Laut Jawa.

Karena harus menempuh lintasan yang lebih jauh, jarak tempuh pesawat menjadi lebih panjang dan memakan waktu lebih lama. Rute-rute yang harus mengubah lintasan adalah Jakarta-Semarang, Jakarta-Surabaya, jakarta-Solo, dan Jakarta-Denpasar.

Presiden Asosiasi Pilot Garuda Indonesia, Stephanus Gerardus, mengatakan, pesawat Garuda harus menggeser lintasan lebih ke utara sehingga jarak tempuh penerbangan bertambah sekitar 10 menit. Tambahan bahan bakar yang diperlukan adalah 300 kg. Dengan harga avtur kira-kira Rp 7.000 per liter, maka Garuda harus menambah biaya minimal Rp 2,1 juta.

Kerugian bertambah

Kerugian agaknya akan bertambah karena beberapa negara asing mulai mengeluarkan peringatan walaupun BMKG telah memastikan bahwa bandara Soekarno-Hatta dipastikan aman dari abu Merapi. AS, misalnya, mengeluarkan Travel Warning pada 11 November 2010. Peringatan serupa tampaknya akan segera dikeluarkan oleh negara-negara lain jika pengamatan oleh beberapa satelit dari orbit memang benar.

Negara-negara asing yang memiliki akses pada orbit Bumi cenderung mempercayai hasil-hasil pengamatan satelit. Jadi, kemungkinan besar kerugian perusahaan penerbangan masih akan bertambah lagi.

Sebelumnya, publik penerbangan internasional sudah dikhawatirkan oleh berita tentang abu vulkanik yang terbukti telah merusak mesin pesawat Airbus A330-300 milik Thomas Cook Scandinavia. Pesawat yang dioperasikan oleh Garuda untuk mengangkut jemaah calon haji tersebut harus mengganti mesinnya saat transit di Batam.

Pengamatan abu vulkanik oleh satelit

VAACs (Volcanic Ash Advisory Centres) cabang Darwin, Australia, yang bertugas menghimpun informasi tentang awan abu dan memperkirakan risikonya bagi penerbangan, memanfaatkan data satelit untuk membuat prediksi jalur penerbangan.

Satelit dapat membantu VAACs menghimpun informasi tentang abu dan melacak gas, misalnya sulfur dioksida, yang membumbung ke atmosfer. ESA telah mengirimkan peringatan tentang sulfur dioksida tersebut melalui email secara real-time. Di dalam email tersebut disertakan pula peta lokasi yang dinaungi tebaran sulfur dioksida.

Dukungan bagi layanan pengendali penerbangan ini didasarkan pada data dari tiga setelit, yaitu satelit Envisat milik ESA, MetOp milik Eumetsat, dan Aura milik NASA. Dalam pengolahan citra, diperlihatkan bahwa sulfur dioksida yang disemburkan Merapi mengarah ke Australia selama 4-13 November 2010.

Walaupun demikian, ESA menegaskan bahwa VAACs memerlukan informasi yang lebih akurat tentang ketinggian dan ukuran vertikal tebaran abu agar pesawat dapat terbang dengan aman di bawah atau di atas awan abu. Informasi tersebut juga diperlukan untuk meramalkan pergerakan awan yang mengandung suflur dioksida.

ESA memulai proyek 'Support to Aviation for Volcanic Ash Avoidance' dengan memanfaatkan data satelit dan pengukuran angin untuk menghitung ketinggian awan dan abu semburan gunung berapi. Pada Mei 2010, ESA dan Eumetsat mengadakan pertemuan dengan para ilmuwan terkemuka dunia untuk meningkatkan dukungan satelit bagi VAACs.

Ke depan, satelit-satelit operasional seperti Meteosat Third Generation milik Masyarakat Eropa dan satelit Global Monitoring for Environment and Scurity (GMES) Sentinels, yang masih dalam tahap perencanaan, akan mengawasi abu vulkanik dengan lebih cermat.***



Sumber: ESA.int/Kompas/Tribunnews/Avherald

Sumber ilustrasi: ESA.int

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar