Foto komposit tiga-warna ini memperlihatkan benda luar angkasa Herbig-Haro 34 yang masih berada dalam tahap evolusi protostar sekitar 1.500 tahun cahaya dari Bumi. Lokasinya tak jauh dari Nebula Orion yang terkenal itu - salah satu kawasan pembentukan bintang paling produktif di Bima Sakti (Milky Way).
Herbig-Haro 34 tampak sangat menarik sekaligus rumit. Dua semburan jet tampak menumbuk materi interstellar di dekatnya. Struktur ini dihasilkan oleh letusan "peluru" yang mirip semburan senapan mesin dengan gas-gas yang padat yang disemburkan dari bintang dengan kecepatan tinggi (sekitar 250 km/jam).
"Air terjun" di bagian kanan atas masih belum dapat dijelaskan.***
Sumber: Daily Galaxy via FORS Team, 8.2-meter VLT, ESO
Selasa, 18 Januari 2011
Kelahiran Bintang di Bima Sakti
Gumpalan kabut gelap dan misterius (tengah kanan) tampak seperti mengalir dari sebuah pusat ledakan yang terang benderang.
Kabut misterius tersebut, yang diberi nama M17 SWex, sedang melahirkan bintang dengan kecepatan tinggi namun belum melampaui bintang-bintang terbesar di gugusan tersebut -- bintang-bintang dari kelas O. Agak ke kiri, di ekor kabut gelap tersebut, dapat terlihat bintang O raksasa yang menimbulkan kontras dramatis di bagian tengah foto.
Foto false-color luar angkasa ini dipotret oleh Spitzer Space Telescope dengan sinar inframerah.
Kabut gelap tersebut merupakan bagian dari nebula induk yang lebih besar dan dikenal dengan nama M17. Nebula ini merupakan sebuah kawasan luas di galaksi Bima Sakti yang memiliki sebuah pusat gugus bintang yang terang.
Menurut astronom dari Penn State, Matthew Povich, mahasiswa pascadoktoral dan pengarang utama kajian yang diterbitkan baru-baru ini dalam The Astrophysical Journal Letters, temuan terbaru ini dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana dan kapan bintang-bintang raksasa terbentuk.
Kabut gelap tersebut pernah ditemukan lebih dari 30 tahun lampau di rasi Sagitarius. Tetapi, baru sekarang kabut tersebut dapat diamati dengan lebih jelas berkat ketajaman mata teleskop Spitzer.
Pemindai inframerah Spitzer memperlihatkan, M17 SWex merupakan salah satu kawasan pembentukan bintang yang paling dekat dengan Bumi sekaligus pabrik pembuat bintang paling sibuk di galaksi kita - saat ini telah terbentuk 488 bintang baru dan masih akan ada sekitar 200 bintang lagi yang dilahirkan. Bintang-bintang ini akan masuk ke dalam kelas B, yang lebih besar dan lebih membara daripada Matahari.
Povich menyatakan, "Sebagian besar dari bintang-bintang yang kami amati relatif terang, jadi kami memprediksi jumlah bintang-bintang yang terbentuk di M17 SWex akan lebih dari 10 ribu karena bintang-bintang yang lebih redup belum bisa dideteksi dengan observasi sekarang ini."
Yang mengherankan, tidak ada bintang dari kelas O -- bintang yang warnanya paling biru, paling panas, dan paling besar di luar angkasa - yang muncul dari proses kelahiran tersebut. Walaupun relatif jarang terdapat di jagat raya, bintang-bintang O inilah yang membuat terang benderang berbagai kawasan di dalam nebula M17 yang sangat besar.***
Sumber: Daily Galaxy via NASA/JPL-Caltech/M. Povich (Penn State)
Kabut misterius tersebut, yang diberi nama M17 SWex, sedang melahirkan bintang dengan kecepatan tinggi namun belum melampaui bintang-bintang terbesar di gugusan tersebut -- bintang-bintang dari kelas O. Agak ke kiri, di ekor kabut gelap tersebut, dapat terlihat bintang O raksasa yang menimbulkan kontras dramatis di bagian tengah foto.
Foto false-color luar angkasa ini dipotret oleh Spitzer Space Telescope dengan sinar inframerah.
Kabut gelap tersebut merupakan bagian dari nebula induk yang lebih besar dan dikenal dengan nama M17. Nebula ini merupakan sebuah kawasan luas di galaksi Bima Sakti yang memiliki sebuah pusat gugus bintang yang terang.
Menurut astronom dari Penn State, Matthew Povich, mahasiswa pascadoktoral dan pengarang utama kajian yang diterbitkan baru-baru ini dalam The Astrophysical Journal Letters, temuan terbaru ini dapat menjawab pertanyaan tentang bagaimana dan kapan bintang-bintang raksasa terbentuk.
Kabut gelap tersebut pernah ditemukan lebih dari 30 tahun lampau di rasi Sagitarius. Tetapi, baru sekarang kabut tersebut dapat diamati dengan lebih jelas berkat ketajaman mata teleskop Spitzer.
Pemindai inframerah Spitzer memperlihatkan, M17 SWex merupakan salah satu kawasan pembentukan bintang yang paling dekat dengan Bumi sekaligus pabrik pembuat bintang paling sibuk di galaksi kita - saat ini telah terbentuk 488 bintang baru dan masih akan ada sekitar 200 bintang lagi yang dilahirkan. Bintang-bintang ini akan masuk ke dalam kelas B, yang lebih besar dan lebih membara daripada Matahari.
Povich menyatakan, "Sebagian besar dari bintang-bintang yang kami amati relatif terang, jadi kami memprediksi jumlah bintang-bintang yang terbentuk di M17 SWex akan lebih dari 10 ribu karena bintang-bintang yang lebih redup belum bisa dideteksi dengan observasi sekarang ini."
Yang mengherankan, tidak ada bintang dari kelas O -- bintang yang warnanya paling biru, paling panas, dan paling besar di luar angkasa - yang muncul dari proses kelahiran tersebut. Walaupun relatif jarang terdapat di jagat raya, bintang-bintang O inilah yang membuat terang benderang berbagai kawasan di dalam nebula M17 yang sangat besar.***
Sumber: Daily Galaxy via NASA/JPL-Caltech/M. Povich (Penn State)
Kamis, 13 Januari 2011
Tragedi Arizona bagi Program Luar Angkasa AS
Lepas tengah hari, 8 Januari 2011. Representative Gabrielle Giffords yang tampil prima pada usia 40 tahun dan beberapa rekan politisinya sedang bersemangat dalam acara pertemuan dengan konstituen di supermarket lokal di Tucson, Arizona, itu.
Tiba-tiba seorang pemuda likuran tahun mendekat ke arah para pembicara, menghunus pistol dan mulai menembak membabi buta. Paling tidak, 12 orang terluka dan beberapa orang - pejabat penting - tewas di tempat.
Pembunuh itu berhasil diringkus. Tetapi Representative Giffords tertembak di bagian kepala. Ia cepat-cepat dilarikan ke University Medical Center of Tucson. Di rumah sakit itu ia dibedah tetapi hingga beberapa hari kemudian ia belum siuman.
Representative Giffords terpilih sebagai wakil rakyat AS pada 2006. Ia ditempatkan di House Science and Technology, House Armed Services dan House Foreign Affairs Committees, dan pernah menjadi kepala House of Space and Aeronautics Subcommitttee.
Ia juga menikah dengan astronot NASA, Mark Kelly. Mr. Mark adalah veteran tiga penerbangan antariksa yang dijadwalkan memimpin penerbangan terakhir Endeavour, yang diundur hingga 1 April 2011.
Ipar Representative Giffords, Scott Kelly, juga seorang astronot NASA. Ia kini tinggal di ISS sebagai komandan misi Ekspedisi 26.
Kasus penembakan di Arizona itu tidak jelas namun tentu akan berpengaruh pada program luar angkasa AS - yang menderita beberapa kemunduran setelah Presiden Obama mengalihkan fokus kegiatan NASA ke asteroid.
Juru bicara NASA Nicole Cloutier-Lemasters menyatakan, fokus utama NASA sekarang adalah pada Mark dan Scott serta para korban dan keluarga mereka.
Tanki bahan bakar eksternal Discovery yang rusak membuat peluncuran pesawat ulang-alik itu ditunda hingga 3 Februari 2011. Akibatnya, penerbangan STS-134 mission Endeavour harus diundur hingga 1 April. Ini dianggap bisa memberikan waktu bagi Scott dan Mark untuk berkumpul bersama keluarga mereka sebelum misi dimulai.
Robert Pearlman, editor collectSPACE.com, menyarankan agar, sementara Scott mendampingi istrinya, NASA dapat memeriksa kembali peralatan latihan. Selain itu, Scott harus memutuskan apakah ia akan tetap terbang atau tetap mendampingi istrinya.
Kepala NASA Charles Bolden telah mengeluarkan pernyataan berduka cita untuk keluarga Scott. Dari ISS, Scott menulis status di Facebook-nya, mengungkapkan terima kasih kepada khalayak yang telah mendoakan dan turut berduka cita untuk iparnya.
Tragedi Arizona membuat seluruh warga NASA dan pengamat luar angkasa menyingkirkan sejenak kritik dan kontroversi tentang penundaan peluncuran Endeavour. Saat ini adalah waktu untuk bersedih.
Tiba-tiba seorang pemuda likuran tahun mendekat ke arah para pembicara, menghunus pistol dan mulai menembak membabi buta. Paling tidak, 12 orang terluka dan beberapa orang - pejabat penting - tewas di tempat.
Pembunuh itu berhasil diringkus. Tetapi Representative Giffords tertembak di bagian kepala. Ia cepat-cepat dilarikan ke University Medical Center of Tucson. Di rumah sakit itu ia dibedah tetapi hingga beberapa hari kemudian ia belum siuman.
Representative Giffords terpilih sebagai wakil rakyat AS pada 2006. Ia ditempatkan di House Science and Technology, House Armed Services dan House Foreign Affairs Committees, dan pernah menjadi kepala House of Space and Aeronautics Subcommitttee.
Ia juga menikah dengan astronot NASA, Mark Kelly. Mr. Mark adalah veteran tiga penerbangan antariksa yang dijadwalkan memimpin penerbangan terakhir Endeavour, yang diundur hingga 1 April 2011.
Ipar Representative Giffords, Scott Kelly, juga seorang astronot NASA. Ia kini tinggal di ISS sebagai komandan misi Ekspedisi 26.
Kasus penembakan di Arizona itu tidak jelas namun tentu akan berpengaruh pada program luar angkasa AS - yang menderita beberapa kemunduran setelah Presiden Obama mengalihkan fokus kegiatan NASA ke asteroid.
Juru bicara NASA Nicole Cloutier-Lemasters menyatakan, fokus utama NASA sekarang adalah pada Mark dan Scott serta para korban dan keluarga mereka.
Tanki bahan bakar eksternal Discovery yang rusak membuat peluncuran pesawat ulang-alik itu ditunda hingga 3 Februari 2011. Akibatnya, penerbangan STS-134 mission Endeavour harus diundur hingga 1 April. Ini dianggap bisa memberikan waktu bagi Scott dan Mark untuk berkumpul bersama keluarga mereka sebelum misi dimulai.
Robert Pearlman, editor collectSPACE.com, menyarankan agar, sementara Scott mendampingi istrinya, NASA dapat memeriksa kembali peralatan latihan. Selain itu, Scott harus memutuskan apakah ia akan tetap terbang atau tetap mendampingi istrinya.
Kepala NASA Charles Bolden telah mengeluarkan pernyataan berduka cita untuk keluarga Scott. Dari ISS, Scott menulis status di Facebook-nya, mengungkapkan terima kasih kepada khalayak yang telah mendoakan dan turut berduka cita untuk iparnya.
Tragedi Arizona membuat seluruh warga NASA dan pengamat luar angkasa menyingkirkan sejenak kritik dan kontroversi tentang penundaan peluncuran Endeavour. Saat ini adalah waktu untuk bersedih.
Selasa, 11 Januari 2011
Keppler-10b: Planet Ekstrasurya Terkecil
Planet-planet ekstrasurya yang berhasil ditemukan selama ini berukuran minimal tiga kali lebih besar dari Bumi dan lebih mirip bola gas raksasa sehingga kerap dijuluki sebagai "hot Jupiters". Namun, misi Keppler NASA baru-baru ini berhasil mengkonfirmasi penemuan sebuah planet ekstrasurya yang ukurannya lebih kecil daripada planet-planet ekstrasurya yang lain.
Keppler-10b mengorbit sebuah bintang induk yang bernama Keppler-10. Planet ini sekarang merupakan planet ekstrasurya terkecil yang berhasil ditemukan oleh astronom. Keppler-10b diperkirakan tersusun dari bebatuan dan berukuran sekitar 1,4 kali ukuran Bumi. Ia terletak sekitar 20 kali lebih dekat dengan bintang induknya jika dibandingkan dengan jarak antara Matahari dengan Merkurius. Jarak sedekat itu menyebabkan Keppler-10 menyelesaikan satu kali orbit hanya dalam waktu 0.84 hari (waktu Bumi).
Fotometer ultra-presisi Keppler mengukur menurunnya kecerahan cahaya sebuah bintang yang terjadi ketika sebuah planet melintas di depan bintang tersebut. Ukuran planet yang melintas itu kemudian dapat diderivasikan dari penurunan kecerahan periodik ini. Jarak antara planet dengan bintang tersebut dihitung dengan mengukur waktu antara satu penurunan kecerahan dengan penurunan kecerahan yang lain.
Karena jaraknya yang sangat dekat dengan bintang induk, Keppler-10b tidak terletak di habitable zone atau zona yang dapat dihuni. Pada jaraknya yang sekarang, planet ekstrasurya terkecil ini akan berwujud bebatuan membara sehingga kecil kemungkinan ada makhluk hidup yang dapat tinggal di sana. Habitable zone adalah kawasan di luar angkasa dalam suatu sistem tata surya yang mempunyai kemungkinan untuk memiliki kondisi-kondisi seperti Bumi sehingga dapat dihuni oleh makhluk hidup.
Keppler-10 terletak sekitar 560 tahun cahaya dan ukurannya kira-kira sama dengan Matahari kita. Usianya diperkirakan sekitar 8 milyar tahun. Dengan penemuan Keppler-10b, Keppler-10 menjadi bintang pertama yang diketahui dapat menjadi induk bagi planet ekstrasurya berukuran kecil. Oleh karena itu bintang ini berada di urutan teratas pada daftar observasi teleskop W.M. Keck Observatory 10-meter di Hawaii. Teleskop raksasa ini memiliki kemampuan untuk mengukur perubahan sangat kecil dalam spektrum cahaya sebuah bintang dengan memanfaatkan pergeseran Doppler, yang diduga disebabkan oleh tarikan gravitasi dari sebuah planet yang mengorbit bintang tersebut.
Data yang mendukung penemuan Keppler-10b dikumpulkan sejak Mei 2009 hingga awal Januari 2010.
Penemuan tersebut dilaporkan oleh Natalie, Batalha, deputi sains Kepler di Ames Research Center in Moffett Field, Calif., dalam sebuah konferensi pers pada 217th American Astronomy Society meeting.***
Sumber: Space.com, Daily Galaxy
Sumber ilustrasi: Space.com
Keppler-10b mengorbit sebuah bintang induk yang bernama Keppler-10. Planet ini sekarang merupakan planet ekstrasurya terkecil yang berhasil ditemukan oleh astronom. Keppler-10b diperkirakan tersusun dari bebatuan dan berukuran sekitar 1,4 kali ukuran Bumi. Ia terletak sekitar 20 kali lebih dekat dengan bintang induknya jika dibandingkan dengan jarak antara Matahari dengan Merkurius. Jarak sedekat itu menyebabkan Keppler-10 menyelesaikan satu kali orbit hanya dalam waktu 0.84 hari (waktu Bumi).
Fotometer ultra-presisi Keppler mengukur menurunnya kecerahan cahaya sebuah bintang yang terjadi ketika sebuah planet melintas di depan bintang tersebut. Ukuran planet yang melintas itu kemudian dapat diderivasikan dari penurunan kecerahan periodik ini. Jarak antara planet dengan bintang tersebut dihitung dengan mengukur waktu antara satu penurunan kecerahan dengan penurunan kecerahan yang lain.
Karena jaraknya yang sangat dekat dengan bintang induk, Keppler-10b tidak terletak di habitable zone atau zona yang dapat dihuni. Pada jaraknya yang sekarang, planet ekstrasurya terkecil ini akan berwujud bebatuan membara sehingga kecil kemungkinan ada makhluk hidup yang dapat tinggal di sana. Habitable zone adalah kawasan di luar angkasa dalam suatu sistem tata surya yang mempunyai kemungkinan untuk memiliki kondisi-kondisi seperti Bumi sehingga dapat dihuni oleh makhluk hidup.
Keppler-10 terletak sekitar 560 tahun cahaya dan ukurannya kira-kira sama dengan Matahari kita. Usianya diperkirakan sekitar 8 milyar tahun. Dengan penemuan Keppler-10b, Keppler-10 menjadi bintang pertama yang diketahui dapat menjadi induk bagi planet ekstrasurya berukuran kecil. Oleh karena itu bintang ini berada di urutan teratas pada daftar observasi teleskop W.M. Keck Observatory 10-meter di Hawaii. Teleskop raksasa ini memiliki kemampuan untuk mengukur perubahan sangat kecil dalam spektrum cahaya sebuah bintang dengan memanfaatkan pergeseran Doppler, yang diduga disebabkan oleh tarikan gravitasi dari sebuah planet yang mengorbit bintang tersebut.
Data yang mendukung penemuan Keppler-10b dikumpulkan sejak Mei 2009 hingga awal Januari 2010.
Penemuan tersebut dilaporkan oleh Natalie, Batalha, deputi sains Kepler di Ames Research Center in Moffett Field, Calif., dalam sebuah konferensi pers pada 217th American Astronomy Society meeting.***
Profil singkat Keppler-10b:
Bintang induk: Keppler-10
Jarak dengan bintang induk: 20 kali jarak Merkurius-Matahari.
Orbit: 0,84 hari waktu Bumi
Ukuran: 1,4 kali ukuran Bumi
Penemu: NASA's Keppler Mission
Metode: Fotometri dengan pergeseran Doppler
Sumber: Space.com, Daily Galaxy
Sumber ilustrasi: Space.com
Senin, 10 Januari 2011
Lift ke Langit
Tak lama lagi, akan ada petugas yang menanyakan tujuan Anda – ke LEO (Low Earth Orbit/Orbit Rendah Bumi) atau GSO (Geostationary Orbit/Orbit Geostasioner).
Saat ini, di pelbagai negara maju sedang digiatkan riset untuk merancang sebuah lift atau elevator yang dapat menghubungkan luar angkasa dengan Bumi. India tak mau ketinggalan dalam riset luar angkasa semacam ini. A. Senthil Kumar, deputi kepala di Vikram Sarabhai Space Center (VSSC) menyatakan dalam sebuah wawancara dengan IANS, “Inilah saatnya lembaga-lembaga riset India mengembangkan fiber komposit nanotube karbon, nano epoxy dan berkas sinar laser.”
VSSC adalah bagian dari ISRO (Indian Space Research Organization).
Kumar menjelaskan, elevator luar angkasa itu akan terdiri dari sebuah kabel dengan jangkar di permukaan tanah yang dihubungkan dengan sebuah balas (counter weight) yang terletak di GSO, sekitar 35.786 km di atas (atau di bawah?) Bumi. Pendaki akan naik dengan cara menumpang di dalam sebuah nanotube karbon yang bergerak antara langit dan Bumi.
Lift luar angkasa tersebut akan dapat digunakan sebagai sarana transportasi bagi manusia, satelit dan barang-barang lain-lain dari Bumi ke luar angkasa. Jika infrastruktur tersebut telah berada di posisinya, biaya untuk membawa barang dari Bumi ke GSO akan dapat diperkecil hingga kurang dari $250 per kg – saat ini ongkosnya adalah $40,000 per kg. Sekitar 94% dari berat total roket konvensional terdiri dari bahan bakar dan infratsruktur lain.
Lift tersebut dirancang untuk bisa berjalan dengan kecepatan 200km/jam dan mencapai GSO dalam waktu 8 hari. Sebuah bangunan tinggi di Bumi dapat menjadi jangkar. Dari sini, seutas tali yang terbuat dari fiber komposit nanotube karbon akan merentang sejauh 50.000 km ke luar angkasa. Sebuah alat pendaki atau lift yang berbahan bakar energi berkas sinar laser dapat berjalan menyusuri tali tersebut. Wadah yang bisa digunakan untuk memuat barang-barang dapat ditumpangkan pada lift semacam ini untuk mencapai orbit.
Secara teoretis, nanotube karbon memiliki daya tahan sebesar 300 gigapascal sementara daya tahan yang dibutuhkan untuk penerbangan luar angkasa hanya 130 gigapascal. Fiber nano karbon yang ada saat ini memiliki daya tahan lima gigapascal.
Kabel untuk luar angkasa tersebut direncanakan tebal di bagian atas dan semakin tipis hingga mencapai Bumi. Pertama-tama, sebuah satelit akan membawa kabel tersebut ke luar angkasa. Dari atas sana, kabel itu akan terbuka gulungannya hingga terulur ke arah Bumi, kemudian ujungnya diikatkan pada stasiun di Bumi. Hambatannya adalah radiasi, petir, angin, meteor, space debris (serpihan benda-benda luar angkasa). Tetapi Kumar yakin hambatan-hambatan tersebut dapat ditangani.***
Sumber: space-travel.com
Sumber ilustrasi: space-travel.com
Saat ini, di pelbagai negara maju sedang digiatkan riset untuk merancang sebuah lift atau elevator yang dapat menghubungkan luar angkasa dengan Bumi. India tak mau ketinggalan dalam riset luar angkasa semacam ini. A. Senthil Kumar, deputi kepala di Vikram Sarabhai Space Center (VSSC) menyatakan dalam sebuah wawancara dengan IANS, “Inilah saatnya lembaga-lembaga riset India mengembangkan fiber komposit nanotube karbon, nano epoxy dan berkas sinar laser.”
VSSC adalah bagian dari ISRO (Indian Space Research Organization).
Kumar menjelaskan, elevator luar angkasa itu akan terdiri dari sebuah kabel dengan jangkar di permukaan tanah yang dihubungkan dengan sebuah balas (counter weight) yang terletak di GSO, sekitar 35.786 km di atas (atau di bawah?) Bumi. Pendaki akan naik dengan cara menumpang di dalam sebuah nanotube karbon yang bergerak antara langit dan Bumi.
Lift luar angkasa tersebut akan dapat digunakan sebagai sarana transportasi bagi manusia, satelit dan barang-barang lain-lain dari Bumi ke luar angkasa. Jika infrastruktur tersebut telah berada di posisinya, biaya untuk membawa barang dari Bumi ke GSO akan dapat diperkecil hingga kurang dari $250 per kg – saat ini ongkosnya adalah $40,000 per kg. Sekitar 94% dari berat total roket konvensional terdiri dari bahan bakar dan infratsruktur lain.
Lift tersebut dirancang untuk bisa berjalan dengan kecepatan 200km/jam dan mencapai GSO dalam waktu 8 hari. Sebuah bangunan tinggi di Bumi dapat menjadi jangkar. Dari sini, seutas tali yang terbuat dari fiber komposit nanotube karbon akan merentang sejauh 50.000 km ke luar angkasa. Sebuah alat pendaki atau lift yang berbahan bakar energi berkas sinar laser dapat berjalan menyusuri tali tersebut. Wadah yang bisa digunakan untuk memuat barang-barang dapat ditumpangkan pada lift semacam ini untuk mencapai orbit.
Secara teoretis, nanotube karbon memiliki daya tahan sebesar 300 gigapascal sementara daya tahan yang dibutuhkan untuk penerbangan luar angkasa hanya 130 gigapascal. Fiber nano karbon yang ada saat ini memiliki daya tahan lima gigapascal.
Kabel untuk luar angkasa tersebut direncanakan tebal di bagian atas dan semakin tipis hingga mencapai Bumi. Pertama-tama, sebuah satelit akan membawa kabel tersebut ke luar angkasa. Dari atas sana, kabel itu akan terbuka gulungannya hingga terulur ke arah Bumi, kemudian ujungnya diikatkan pada stasiun di Bumi. Hambatannya adalah radiasi, petir, angin, meteor, space debris (serpihan benda-benda luar angkasa). Tetapi Kumar yakin hambatan-hambatan tersebut dapat ditangani.***
Sumber: space-travel.com
Sumber ilustrasi: space-travel.com
Langganan:
Postingan (Atom)



